AHLAN WA SAHLAN DI BLOG KAMI...

Assalamu alaikum. wr. wb...Blog ini sebagai bentuk upaya kami memberikan sebuah kemanfaatan kepada pembaca, dengan harapan bahwa sedikit tulisan di blog ini bisa membantu rekan-rekan semua dalam mencari kebutuhan akan ilmu yang bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

UNTUKMU, WAHAI PENGGORES KISAH…


Saat hujan turun, Sabtu, 30 Juli 2011
Karya : Yulianti Ahama
Ketika itu, kau datang dengan segala kepiawaianmu,
Memberikan pesona kekaguman yang luar biasa indahnya,,
Setiap jiwa yang bersih yang memandangmu, pasti terkesima dan berbisik dalam hati,
Subhanallah, luar biasa…Cerdas, pandai dan segala pujian dialamatkan padamu…
Begitupun denganku, respon  refleks yang pernah aku ucapkan ketika itu, saat pertama ku mengenal dirimu,, Kau sungguh luar biasa…

Hari pun kian berganti,
Aku semakin akrab denganmu,,
aku seperti sudah lama mengenalmu,
Tapi entah dimana, aku tidak pernah bisa mengingatnya,
Aku tidak pernah menyadari keanehan yang kurasakan, sudah lama tidak pernah lagi kurasakan..
meski ia, aku tahu rasa ini bukan sekedar perasaan biasa…

Cinta,,,
begitulah mereka menyebutnya, tatkala insan merasakannya, segalanya terasa indah,
keburukan bisa terlihat menjadi baik, kejahatan terlihat menjadi kearifan,
Sesuatu yang terlihat biasa, sepertinya luar biasa…
ah,,indah memang terasa.
Itulah mengapa Tuhan mengirimkan cinta ke muka bumi,
agar manusia bersyukur akan keindahan-Nya.


Dalam diam ku merenung,
pantaskah aku memiliki rasa cinta ? pantaskah aku mencintainya ?
pertanyaan itulah yang paling cocok dialamatkan padaku…
perlahan ku buka kembali memori masa silam yang pernah ku lalui, masih terlihat bekas darah disana. pertanda luka yang masih menganga…

Cinta,,
kau tak mampu menembus batas logikaku..
Aku takkan bisa melupakan sepenggal kisah yang pernah membuatku terhanyut dalam kebutaan cinta..
perasaan yang pernah membuatku lara dalam tawa, dan tertawa di dalam lara…
Sungguh, aku telah salah memiliki rasa…

Mereka selalu bilang padaku,
jatuh cinta itu fitrah manusia, tidak selamanya kita dapat memiliki apa yang kita cintai…
tetapi kita bisa mencintai apa yang kita miliki saat ini,,perkataan mereka ada benarnya,

Aku menepis bayangmu yang terus menertawakanku yang selalu terhantui..
sadarku dari buaian rasa cinta itu,
Ampunkan aku Tuhan, bahkan cinta-Mu tak lagi menyentuh sukmaku, karena terhalang olehnya..
Syaitan mengutuk dan membisiki agar aku lari dan mengejar cinta itu…
tapi tidak ku turuti, kenapa ?
Karena aku mencintaimu, ..

Cinta sejati bukan memaksakan untuk memiliki, tetapi cinta sejati itu menuntun menuju cahaya hati, tidak menyesatkan dan tidak melemahkan…
Wahai, kau yang telah menggoreskan kisah,,
Meski kau memiliki rasa yang sama, takutlah kita pada Rabb yang mengawasi rasa..
kita tak mampu bersembunyi dari-Nya, murka-Nya akan menghimpit kita tatkala melawan titah-Nya,,

Jika kau mencintaiku, bawalah aku menuju Rabb ku dengan syari’at-Nya,
Jadikan aku bidadarimu di dunia dan akhirat, karena akhiratlah kehidupan yang sebenarnya,
jangan biarkan nafsu menodai cintamu padaku..
Kita kan bersama dalam naungan-Nya, menjadikan cinta sebagai  jalan mengabdi pada-Nya…

Selasa, 28 Juni 2011

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT ?

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,
Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka
menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,  menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apaapa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya” sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak
menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat  ibu sebaik-baik secara bergantian”. Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. “Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah
dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa
bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita;
***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit ***

============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 301-303. ISBN 978-6028-686-938.